Home > Mind Set > Bahagia Jadi Indonesia

Bahagia Jadi Indonesia

September 29, 2012 Leave a comment Go to comments

By Gede Prama

Tulisan Daoed Joesoef berjudul “Indonesia  Negara Gagal?” (Kompas, 12 Juli 2012) menarik sekali. Doktor multi disiplin dari Sorbornne ini  banyak benarnya. Pertama, pembangunan sudah jauh dari memadai bila didangkalkan hanya ke dalam pembangunan ekonomi. Kedua, dalam jumlah yang terus bertumbuh semakin banyak di antara kita yang tidak lagi bahagia menjadi Indonesia. Ketiga, kita memerlukan pikiran segar.

Pembangunan vs. kebahagiaan

Linda Sparrowe – dalam majalah Yoga International edisi Summer 2012 – jernih sekali menerangkan keterbatasan kemajuan ekonomi. Bertahun-tahun manusia dicekoki bahwa semakin kaya sebuah bangsa secara materi maka semakin bahagia rakyatnya. Ternyata,  The World Happiness  Report (laporan dunia tentang kebahagiaan) terakhir yang dibuat oleh The Earth Institute dari Universitas Colorado bercerita lain sekali. Amerika Serikat yang memiliki produk nasional bruto tertinggi di dunia selama bertahun-tahun bahkan tidak termasuk dalam sepuluh besar sekali pun sebagai bangsa bahagia. Perhatikan angkanya, 19 juta warga Amerika Serikat mengalami depresi, 40 juta resah, 23 juta kecanduan obat-obatan, 93 juta mengalami kegemukan. Sebaliknya, bangsa yang indeks kebahagiaannya tinggi, ditandai oleh dua hal yakni rasa percaya yang tinggi serta rasa hormat mendalam satu sama lain. Serangkaian kekayaan  yang sedang dalam proses kepunahan di mana-mana. Linda Sparrowe kemudian memberikan dua jalan keluar: inner quest, living yoga. Menggali ke dalam diri serta menggunakan kehidupan sebagai langkah kebersatuan kosmik.

Tanpa keseriusan seperti ini, kemajuan ekonomi sekencang apa pun – termasuk semua rumah jelek dipugar dengan program bedah rumah, semua warga dikasi sepeda motor gratis pun – tetap akan melahirkan kebingungan.  Soal tidak bahagia menjadi Indonesia, contohnya terus bertambah. Aceh adalah cerita lama yang belum selesai sepenuhnya. Irian Jaya adalah kisah tua yang terus membara dalam sekam. Kalimantan baru-baru ini berani menutup sungai besar tempat transportasi hasil tambang karena protes dengan kebijakan bahan bakar minyak. Bali pernah meradang gara-gara undang-undang anti pornografi. Intinya sederhana, rasa percaya di antara kita terus menerus menurun.

Membaca kecenderungan ini, kita memerlukan arsitektur berbangsa yang berbeda. Di tengah argumen kaya Daoed Joesoef, ada satu hal yang layak direnungkan kembali, pendekatan yang memandang pemerintah selalu salah. Keindonesiaan yang tidak membahagiakan, bila boleh jujur, adalah tanggungjawab bersama. Terlalu besar beban pemerintah bila semua kesalahan hanya ditimpakan pada mereka. Dalam tataran yang lebih luas, kita sudah terlalu lama terpenjara dalam paradigma pembangunan yang terlalu berorientasi ke luar diri. Ekonomi sebagai panglima pembangunan adalah bukti supremasi kekuatan luar diri seperti uang. Pendekatan seperti ini, bahkan di Amerika Serikat pun tidak membahagiakan. Optimisme Soekarno-Hatta tatkala memproklamasikan kemerdekaan kurang lebih diwarnai oleh energi seperti ini. Bangsa ini bisa berdikari (berbahagia karena upaya sendiri).

Meminjam sebuah cerita, suatu hari ada orang tua berumur kepala delapan sakit-sakitan, oleh dokter diduga sebentar lagi wafat. Untuk itu diminta merenungkan pengalaman hidupnya agar bermakna bagi yang lain. Ternyata renungannya indah sekali. Tatkala muda, ia mau merubah dunia dan gagal. Saat dewasa, ia mau merubah negara dan tidak berhasil. Ketika menua, ia mau merubah keluarga, lagi-lagi kecewa. Setelah mau wafat baru sadar, ternyata intinya adalah merubah diri. Terutama karena saat diri berubah dunia  juga berubah.

Ini mirip dengan  pesan tua meditasi, bila semua terlihat salah artinya perlu meditasi. Tatkala terlihat yang salah bukan orang tapi pikiran ini artinya meditasinya sudah mulai. Kapan saja terasa tidak ada yang salah, semua sempurna apa adanya, artinya meditasi selesai. Bagi sebagian awam, pendekatan ini dikira menjadi bodoh dan dibodoh-bodohi. Bagi yang sudah dewasa secara spiritual mengerti, aristektur masa depan lebih mungkin membahagiakan bila batin manusia bersih dan jernih. Sebersih dan sejernih Nelson Mandela tatkala memulai sejarah baru pasca tumbangnya rezim kulit putih di Afrika Selatan. Tidak saja Afrika Selatan bahagia, Nelson Mandela juga bahagia. Terbukti 18 Juli 2012 ini beliau merayakan ulang tahun ke 94, dikunjungi mantan presiden AS Bill Clinton, dicintai oleh jutaan manusia dari seluruh dunia.

Dalam terang cahaya ini, kita memerlukan pikiran jernih dalam menyongsong masa depan.  Jernih dalam memandang sejarah, jernih dalam merasakan masalah. Kemudian baru mungkin lahir langkah jernih yang bisa meningkatkan rasa percaya di antara kita. Ia lebih mungkin memberi ruang damai pada publik untuk melakukan inner quest, living yoga. Di kedalaman penggalian di dalam, kehidupan serupa taman atau pelangi yang warna-warni. Tidak saja kehidupan luar kaya warna (agama, suku, bahasa yang berbeda), di dalam sini juga kaya warna (kadang senang kadang sedih). Di tangan elit yang pikirannya jernih, hatinya bersih, tangannya trampil, perbedaan ini kemudian diracik menjadi bibit-bibit bagi lahirnya bangsa bahagia. Lex Hixon menyebutnya coming home.

Categories: Mind Set
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: